Kodesultra.id, KONAWE SELATAN – Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kabupaten Konawe Selatan berhasil menggelar Bedah Buku Seri I yang mengulas karya berjudul “Jalan Panjang Menuju Kursi Pemimpin Daerah”.
Forum diskusi tersebut dilaksanakan secara hybrid, yakni tatap muka di Warkop dan Rumah Makan Andoolo serta virtual melalui Zoom Meeting, Senin (28/9/2026).
Terobosan yang digagas KPU Konsel ini disambut positif oleh berbagai elemen. Tidak hanya menambah pengetahuan publik soal dinamika Pilkada, kegiatan ini juga menjadi wadah penting dalam mendorong penguatan literasi di tengah masyarakat.
Acara dibuka resmi oleh Ketua KPU Konawe Selatan, Eko Hasmawan Baso,S.Sos. Dalam sambutannya, ia menegaskan urgensi pemahaman literasi politik bagi warga.
“Lewat Bedah Buku Seri I ini, KPU Konawe Selatan ingin masyarakat tidak sekadar paham teknis kepemiluan, namun juga bisa memahami rekam jejak, problem, dan visi besar di balik terbentuknya pemimpin daerah yang berintegritas,” kata Eko Hasmawan Baso.
Apresiasi juga datang dari Ketua Divisi Teknis Penyelenggaraan Pemilu KPU Sultra, Hazamuddin,S.Sos., M.H., yang hadir secara daring sebagai keynote speaker. Ia menekankan pentingnya penguatan regulasi dan kematangan persiapan teknis dalam menghadapi setiap pesta demokrasi.
Diskusi inti dipandu moderator Erlina, S.H., dengan menghadirkan penulis buku yang juga Guru Besar Komunikasi Pembangunan FISIP UHO Kendari, Prof. Dr. H. M. Najib Husain, S.sos,.M.Si., sebagai pembicara utama secara online. Prof. Najib menguraikan catatan kritis serta refleksi perjalanan demokrasi lokal, terutama pasang surut perjuangan meraih kepemimpinan daerah di tengah krisis.
Pembahasan bedah buku semakin komprehensif dengan hadirnya dua panelis dari perspektif hukum dan pengawasan:
Dr. (Cand) Indra Eka Putra, S.H., M.H., CpL., Anggota Bawaslu Sultra yang hadir langsung di Andoolo. Dari kacamata penegakan hukum pemilu, ia mengupas kesenjangan antara konsep demokrasi secara normatif (das sollen) dengan realita di lapangan (das sein), khususnya saat mengawal Pilkada 2020 di masa pandemi.
“Menurut saya, wajar jika Jalan Menuju Kursi Pemimpin Daerah itu panjang, karena cara kita memahami demokrasi berbeda dengan cara kita menjalankannya. Ada jurang yang lebar, itulah yang membuat jalannya panjang, karena para aktor, baik peserta maupun penyelenggara, tidak sejalan antara apa yang dipikirkan dengan apa yang dipraktikkan di lapangan,” jelas Indra.
Ia menambahkan, kondisi darurat kala itu membuat pengawas pemilu berada dalam situasi sulit. Di satu sisi wajib menegakkan prokes secara ketat, di sisi lain penegakan hukum harus tetap objektif.
“Asas yang dipegang penyelenggara pemilu saat itu adalah keselamatan rakyat merupakan hukum tertinggi atau salus populi suprema lex esto. Di titik itulah dilema Bawaslu sebagai penegak hukum pemilu yang harus tetap tegas terhadap pelanggaran, di tengah kondisi force majeure yang menuntut Bawaslu berpikir ekstra hati-hati sebelum menindak,” tegasnya.
Sementara itu, Dr. Winner, S.H., M.H., Dosen Hukum Tata Negara Universitas Sulawesi Tenggara yang bergabung secara daring, memberikan pandangan kritis terkait konstitusionalitas dan tata kelola regulasi dalam mekanisme rekrutmen pimpinan daerah.
Sesi tanya jawab berlangsung hidup dan interaktif, menandakan tingginya antusiasme peserta, baik yang hadir langsung di Andoolo maupun ratusan peserta online dari kalangan mahasiswa dan masyarakat umum.
Hadir secara luring dalam kegiatan ini antara lain jajaran komisioner KPU Konsel, Ketua dan Anggota Bawaslu Konsel, unsur ASN, perwakilan organisasi kemasyarakatan, serta rekan-rekan media.
Kegiatan kemudian ditutup secara resmi oleh Ketua Divisi Teknis Penyelenggaraan Pemilu KPU Konawe Selatan, Arjono, http://S.Pd., melalui closing speech. Sebagai bentuk penghargaan, panitia memberikan e-sertifikat kepada peserta yang mengikuti diskusi hingga akhir dan telah mengisi daftar hadir.





