Kodesultra.id, KENDARI — Pelantikan dan pergeseran kepemimpinan di lingkup Sekolah Menengah Atas (SMA) Kota Kendari menuai penolakan keras dari kalangan aktivis dan organisasi pemuda di Sulawesi Tenggara (Sultra). Sorotan tajam tertuju pada penunjukan Nur Aida, S.Pd., M.Pd. sebagai Kepala Sekolah SMAN 1 Kendari yang baru, setelah sebelumnya memimpin SMAN 2 Kendari.
Pengangkatan tersebut disayangkan banyak pihak mengingat rekam jejak kepemimpinan Nur Aida di SMAN 2 Kendari diterpa serangkaian isu miring. Selama masa jabatannya di sekolah tersebut, muncul berbagai dugaan pelanggaran yang meresahkan publik, mulai dari indikasi pungutan liar (pungli), dugaan jual beli kuota kursi kosong pada proses penerimaan siswa, hingga penetapan harga seragam sekolah yang dinilai sangat fantastis.
Penolakan ini makin menguat karena SMAN 1 Kendari merupakan salah satu SMA terbaik dan menjadi sekolah kebanggaan masyarakat Kota Kendari.
Masuknya pimpinan yang rekam jejaknya dinilai bermasalah dikhawatirkan dapat mencoreng reputasi serta kualitas tata kelola pendidikan di sekolah unggulan tersebut.
Pernyataan tegas datang dari Presidium Aliansi Pemuda Sultra, Yongki Ardiansyah (ketua APS Sultra). secara terbuka menyatakan menolak kepemimpinan Nur Aida di SMAN 1 Kendari atas dasar dugaan minimnya integritas dan banyaknya rekam jejak kontroversial yang menyertai namanya.
Sebagai bentuk komitmen dalam mengawal tata kelola pendidikan yang bersih, pihak aktivis mengonfirmasi akan menggelar aksi demonstrasi dalam waktu dekat. Aksi unjuk rasa tersebut rencananya bakal ditujukan ke Markas Polda Sultra untuk mendorong proses hukum, serta ke Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) Provinsi Sulawesi Tenggara guna mendesak evaluasi dan pembatalan keputusan pelantikan tersebut.





